CITRAKITA.COM, Palangka Raya – Ditengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tetap menjadi salah satu organisasi kaderisasi terbesar di Indonesia. Namun besarnya nama tidak serta-merta membuat HMI terlepas dari tantangan internal. Dari dinamika perkaderan, kualitas pengelolaan organisasi, hingga orientasi gerak yang kadang kabur, semua menjadi ruang refleksi bagi kader di seluruh tingkatan.
Sebagai kader yang tumbuh dan belajar di organisasi ini, saya merasa perlu menuliskan catatan kecil—sebagai pengingat, bukan penghakiman. Sebagai refleksi, bukan kritik kosong. Sebab HMI bagi banyak kader bukan hanya organisasi, tetapi rumah pemikiran, ruang pembentukan diri, dan tempat menempa kepemimpinan.
Perkaderan yang Harus Kembali ke Ruhnya
Perkaderan adalah jantung HMI. Di sinilah kader baru diperkenalkan pada nilai dasar perjuangan, dipandu mengenal Islam secara rasional, dan diarahkan menjadi insan akademis, pencipta, serta pengabdi masyarakat.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit kader yang merasakan bahwa proses ini mulai kehilangan kedalaman. LK bukan lagi ruang dialog, tetapi sekadar agenda yang harus dilaksanakan. Diskusi tidak sedikit yang berubah menjadi formalitas.
Padahal, kualitas kader lahir dari kualitas forum belajar. Jika prosesnya ringan, hasilnya pun pasti rapuh.
Karena itu, HMI perlu kembali pada ruh perkaderan yang menekankan intelektualitas, karakter, dan kesadaran sosial. Bukan sekadar jumlah kader, tetapi mutu kader.
Organisasi Harus Tetap Menjadi Ruang Aman Berpikir
HMI dibangun atas tradisi kebebasan berpikir. Namun sering kali perdebatan internal justru memunculkan polarisasi.
Padahal ruang diskusi seharusnya melahirkan gagasan, bukan permusuhan.
Kader harus dibiasakan berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa saling menghargai.
Percikan ide tidak boleh berubah menjadi bara konflik.
Jika organisasi kehilangan ruang dialog yang sehat, maka ia kehilangan identitasnya.
HMI dan Tantangan Zaman Digital
Generasi hari ini hidup dalam kecepatan informasi. Tantangannya bukan lagi minim pengetahuan, tetapi banjir informasi.
HMI perlu hadir dengan pendekatan baru: penguasaan digital, literasi data, dan kemampuan komunikasi publik.
Kader harus mampu bersuara di tengah dinamika nasional, tetapi dengan kapasitas, bukan hanya keberanian.
Perjuangan hari ini tidak hanya di jalanan, tetapi di ruang digital, ruang kebijakan, dan ruang intelektual.
Cahaya Itu Harus Tetap Menyala
Catatan kecil ini bukan untuk menilai siapa pun, tetapi untuk mengingatkan bahwa HMI adalah rumah yang harus dijaga bersama.
Agar ia tetap relevan. Agar ia tetap tumbuh. Agar ia tetap menjadi cahaya bagi kadernya, bagi umat, dan bagi bangsa.
Kita yang berada di dalamnya lah yang menentukan arah organisasi. Dan setiap kader, sekecil apa pun perannya, memiliki tanggung jawab menyalakan cahaya itu di tengah zaman yang terus berubah. “Singkat Muhammad Hakim, kader biasa HMI komisariat FTIK UIN Palangka Raya. (Mi)


Tinggalkan Balasan